Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat memvonis mati bandar narkoba sindikat internasional, Freddy Budiman. Dalam amar putusan majelis hakim yang diketahui oleh Aswandi dinyatakan terdakwa terbukti memiliki jutaan pil ekstasi di dalam truk kontainer yang ditangkap pada tahun 2012 lalu.

"Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 114 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman mati," ujar Aswadi saat membacakan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Jakarta Barat, Senin (15/7).

Hukuman mati terhadap Freddy, kata Aswandi, karena terdakwa telah mengaku pemilik ekstasi sebanyak 1,4 juta butir itu. "Terdakwa juga tidak pernah mengajukan keberatan atau menghadirkan saksi yang meringankan di persidangan," ujar Aswandi.

Jutaan pil ekstasi itu berasal dari China dalam sebuah kontainer. Terdakwa berusaha mengelabui petugas Pelabuhan Tanjung Priok dengan mendaftarkan barang miliknya sebagai akuarium impor. "Terdakwa mengatur pil ekstasi itu dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang," lanjutnya.

Selain itu, terdakwa telah memanfaatkan sejumlah kenalannya yang berada di dalam LP untuk mengeluarkan kontainer dari Pelabuhan Tanjung Priok. "Terdakwa juga mendapatkan gudang di Cengkareng untuk menyimpan ekstasi seberat empat ton. Dan terdakwa membayar uang sebesar 90 juta rupiah atas jasa pengurusan kontainer," lanjut dia.

Untuk diketahui, sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) telah menggagalkan penyelundupan narkotika jenis ekstasi sebanyak 1.412.476 butir dari sebuah kontainer yang dikirim dari pelabuhan Lianyung, Shenzhen, China, dengan tujuan Jakarta pada tanggal 8 Mei 2012.